Iklan

144 Keturunan,Resti Simbolon Tutup Usia 92 Tahun.

Journal News
Selasa, 06 April 2021 | 09.42 WIB Last Updated 2021-04-06T02:42:30Z


Samosir,journalnews.id|| Upacara kematian pada masyarakat Batak Toba merupakan Tradisi Turun temurun dan pengakuan bahwa masih ada kehidupan lain dibalik kehidupan di dunia ini. Adapun maksud dan tujuan masyarakat Batak Toba untuk mengadakan upacara kematian itu tentunya berlatar belakang kepercayaan tentang kehidupan.

Ratusan Warga dari berbagai kalangan menghadiri Acara Resepsi Adat Saurmatua dan Pemakaman Resti Simbolon (Op.Serbin boru) ibu/orang tua Ganda Silalahi (Amani Rianda Silalahi), meninggalkan 144 keturunan (Pinompar) dan Tutup usia umur 92 tahun.

Nampak terlihat antusias warga Kenegerian Sihotang khususnya warga Lobu Sonak Desa Siparmahan padati lapangan tempat dilaksanakannya acara adat batak di lokasi rumah Kediaman orang tua Ama Rianda Silalahi.

Acara Adat Pemakaman Ibunda tercinta Ama rianda "Op.Serbin br.simbolon", dengan acara penghormatan terakhir secara adat batak diiringi Gondang Bolon ( tradisional musik batak) atau lazimnya disebut gondang Sabangunan, senin (05/4/2021) di halaman Rumah duka huta lumban tongatonga lobusonak Desa Siparmahan Kecamatan Harian Kabupaten Samosir,Sumatera Utara.

Melalui media hotjurnal.com senin (5/04/)malam Ama rianda Silalahi bersama keluarga besar Pomparan Op.Serbin br.simbolon penuh haru dan suka cita ucapkan terimakasih.

"Kami seluruh keluarga besar pomparan Op.Serbin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian, Doa, serta bantuan, baik moril maupun materil",ucap Ama Rianda Silalahi yang tinggal di bona pasogit sihotang Mewakili semua pomparan Op.Serbin.

Kepala Desa Siparmahan, Bertua Sihotang yang berdomisili di lobu sonak Desa Siparmahan mengatakan, kematian seseorang pada usia tua yang telah memiliki keturunan banyak,akan melaksanakan ritual penguburan dengan tidak sembarangan karena kedudukannya kelak adalah sebagai leluhur yang dihormati, Seperti acara adat pada hari ini.

"Mate Saur matua atau Matua Dolok (Tutup Usia tua dan mempunyai keturan banyak hingga punya Cucu dan cicit ) menjadi tingkat tertinggi dari klasifikasi upacara bagi masyarakat Batak toba, karena mati disaat semua anaknya telah berumah tangga (Marhasohot-Marhamulian), dan telah memberikan cucu, bahkan cicit dari anaknya laki-laki. Ini dianggap sebagai konsep kematian ideal (meningdengan tidak memiliki tanggungan dan tidak memiliki utang," tutur Bertua Sihotang.

Ditambahkanya,Dalam kondisi seperti inilah masyarakat Batak mengadakan Acara pesta untuk orang yang meninggal dunia tersebut. Ini menjadi sebuah tanda bahwa orang yang meninggal tersebut memang sudah waktunya untuk menghadap Tuhan dan ini disambut dengan rasa bahagia dan suka cita.


"Sedih pasti ada,tapi mengingat meninggalnya memang dikarenakan proses kewajaran/alami atau sudah tua, maka kesedihan tidak akan berlarut-larut.Ibaratnya,orang yang meninggal saur matua, hutangnya di dunia ini sudah tidak ada lagi alias Lunas,"ujar Kepala Desa Siparmahan, Bertua Sihotang.

Bagi orang Batak,khususnya Batak Toba,menganggap hutang orang tua itu adalah menikahkan anaknya.maka,ketika hutang seseorang itu lunas,sangatlah wajar jika dia merasa tenang,Ikhlas dan lega",ucap Binsartua Sihotang mengakhiri penuturannya.



Sartono Sihotang(Ton's).
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • 144 Keturunan,Resti Simbolon Tutup Usia 92 Tahun.

Trending Now

Kiri kanan

CLOSE ADS
-->
CLOSE ADS
-->