Iklan

Pegiat Lingkungan Amak Khalil : Gaung NTB Zero Waste 2023 Tinggal Kenangan

Journal News
Selasa, 16 Februari 2021 | 08.16 WIB Last Updated 2021-02-16T01:16:30Z

Lombok Tengah journal news //- NTB Zero Waste 2019-2023 adalah salah satu  program prioritas NTB dalam visi-misi NTB asri dan lestari. Program ini pertama kali gaungnya terdengar saat gubernur dan wakil gubernur duo doktor terpilih dalam konsennya dengan tujuan 2023 NTB sudah bebas sampah yang artinya semua sampah bukan lagi muaranya ke laut maupun ke TPA tapi terkelola dari hulu hingga hilir. Sampah yang dihasilkan oleh manusia di setiap rumah tangga maupun tempat umum semua memiliki lembaga pengelolaan. 

Sampahnya. Tak tanggung-tanggung NTB menargetkan setiap Desa/kelurahan wajib hukumnya memiliki pengelolaan bank sampah, TPST, TPS 3R maupun komunitas lainnya yang bergerak sebagai pegiat lingkungan pengelolaan sampah. 

Amak Khalil (Uji Purnama, SE) yang salah satu pegiat lingkungan NTB mengungkapkan gaungnya semangat  NTB Zero Waste saat ini tidak sama dengan ketika tahun 2019-2020 di mana dulu hampir setiap instansi pemerintah maupun swasta berbicara sampah dengan tujuan kesadaran akan pentingnya peduli lingkungan. Tak tanggung-tanggung pemerintah NTB menargetkan dua tahun lebih cepat dari visi Indonesia bersih 2025. Bahkan saat itu 2019 anggaran Zero menembus sampai angka 10 miliar bahkan untuk anggaran hibah  pengelolaan modal bank sampah saja baik BSIR. 

(Bank sampah induk regional ) maupun BSU (Bank Sampah Unit) dengan nilai 2,8 Miliar di mana anggaran ini terbagi untuk 74 unit untuk BSU, 3 Unit BSIR anggaran hibah 333jt dan dua unit untuk anggaran BSIR anggaran 500jt. Belum lagi anggaran gudang maupun sarana dan prasarana lain. 

Ketika awal program ini turun gaungnya semangat  Zero Waste seantero NTB bahkan orang-orang luar belajar pengelolaan sampah di NTB. Saat ini gaung dan semangat Zero Waste bak hilang ditelan bumi. Yang kebanyakan aktivitas hanya DLHK dan satgas Zero Waste itupun kalau saya menilai masih jalan di tempat. Buktinya hasil pengamatan saya banyak TPA/TPS baru di sepanjang pinggir jalan baik jalan kota maupun Desa. Salah satunya di jalan perbatasan Lombok Tengah dan Lombok Barat terletak di desa Kuripan Utara saya sudah 3 hari tetap full. Bahkan semakin bertambah sampah yang dibuang di lahan kosong. Ungkapnya  Amak Khalil yang sebelumnya sempat menjadi Tim fasilitator Zero  Waste.  


Dalam wawancara wartawan Dengan Amak Khalil Senin 12/02/2021 juga memaparkan konsep dan roadmap pengelolaan sampah salah satunya kunci pengurangan dan penanganan sampah adalah dengan pendekatan industri dari hulu hingga hilir. 

Misalnya di rumah tangga sekalipun harus sudah mulai pemilihan paling tidak jadi dua jenis organik dan anorganik sehingga nanti di Bank Sampah atau TPST mudah melakukan pengolahan mana yang sampah Bisa Daur Ulang (BDU maupun mana Layak Daur Ulang  (LDU). Organik kita olah jadi kompos maupun BSF yang BDU kita jadikan industri kerajinan, yang LDU masuk pabrik jadi bahan baku. Sehingga nanti yang residu saja dimusnahkan di TPA bukan semua sampah masuk TPA. 

Pemerintah NTB masih ada harapan untuk perbaikan sistem dan pengelolaan NTB Zero Waste sebelum terlambat masih ada dua tahun lagi menyelesaikan target NTB bebas sampah paling tidak angka keberhasilan 50% sudah memadai. 


Laporan : (AF)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pegiat Lingkungan Amak Khalil : Gaung NTB Zero Waste 2023 Tinggal Kenangan

Trending Now

Kiri kanan

CLOSE ADS
-->
CLOSE ADS
-->