Iklan

Puisi Keprihatinan Untuk Negara Tercinta Oleh Juftazani, Edisi "Negaraku Dirampok 1"

Journal News
Sabtu, 09 Januari 2021 | 08.01 WIB Last Updated 2021-01-09T01:01:52Z


Journalnews | Pagi ini terasa sunyi di Jakarta
Sebuah jendela terpercik darah
Pintu dan jendela terobek dan pecahan kaca terpental kemana-mana
Anak-anak terbeliak dan perutnya buncit  
Terkapar di lantai istana 
Cukong-cukong sibuk berseliweran mengurus bisnis yang entah
Benar-benar bisnis atau perampokan besar 
Yang melibatkan presiden  republik abrakadabra?

Di ruang B kantor istana  negara
Lelaki bermata cipit sedang mengurus perampokan dengan memborong benih lobster
Berjuta-juta ton benih lobster diekspor (baca: dirampok) dan dikirim  ke luar negeri
Tanda tangan presiden! Tangan presiden! 
Teriak seorang lelaki berkulit putih yang dikawal seorang komprador berkulit coklat
Perut buncit dan matanya masih merah kurang tidur karena dicekoki panasnya alkohol
Mungkin inilah kaki tangan (komprador) tolol yang mengawali perampok internasional
Bebas menjarah kekayaan rakyat di sini. 

Di kantor A depan ruang istana 
Orang-orang bermata cipit dan bermata biru
Minta izin perampokan dari pemimpin tertinggi negara abracadabra
Akan membangun smelter untuk merampok seluruh hasil tambang di Kalimantan
Sumatera, Sulawesi, Papua hingga pulau kecil terpencil yang menyimpan
Kekayaan tambang rakyat Indonesia 
Tapi tuan, rakyat Indonesia sedang  sedang terkapar lemas tak makan
Bayangkan  pengangguran dimana-mana
Ana-anak mereka sedang menjerit di rumah, tak bisa makan karena tak beras
Tak bisa beli pulsa untuk sekolah online

Di ruang C, kelihatan sepi
Karena urusan perampokan tanah-tanah rakyat tak banyak persoalan berarti
Rakyat sudah dikadali dengan hebat
Hingga tanah-tanah mereka dirampok dikuasai negara via para pengusaha perampok 
Yang ingin memiliki negara abrakadabra seratus persen

Pagi ini terasa sunyi di Jakarta
Seorang menteri sedang blusukan ke kolong jembatan tol
Memberikan perhatian untuk rakyat setelah mereka terusir dari rumah-rumah mereka
Yang digusur konglomerat yang tega merampas tanah dan rumah mereka
Darah dan genangan airmata   tercium dari halaman istana
Ketika bu menteri baru saja pulang dari blusukan yang mengingatkan 
Pencitraan presiden negara abrakadabra

 


Jakarta, 6 Januari 2021

Laporan: Jalfad
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puisi Keprihatinan Untuk Negara Tercinta Oleh Juftazani, Edisi "Negaraku Dirampok 1"

Trending Now

Kiri kanan

CLOSE ADS
-->
CLOSE ADS
-->