Iklan

Filosofi Pencak Silat Oleh: Syeikh Nur Alif (KH. Dr. Raden. Nur Alif Fiqri, S.H.)

Journal News
Minggu, 03 Januari 2021 | 18.22 WIB Last Updated 2021-01-03T11:22:53Z

Journalnews | Betapa hebatnya nenek moyang kita dalam mewariskan ilmu beladiri kepada anak-cucunya berupa pencak silat, di mana banyak filosofi di dalamnya.

Sikap kuda-kuda di dalam pencak silat itu, jarang sekali dalam posisi tangan dikepal. Tapi, selalu dengan tangan dibuka.

Itu maksudnya bahwa pencak silat bukanlah sebuah bela diri untuk menyakiti orang. Tapi, bertujuan untuk membela diri dari serangan orang lain.

Dalam sikap kuda-kuda, jika ada yang mengajak berkelahi, lebih banyak menghindar. Dan jika lawan tetap menyerang, maka jurus yang dipakai biasanya hindaran.

Kalau lawan masih juga menyerang, maka dipakai tangkisan. Setelah ditangkis, ternyata lawan masih menyerang, maka kita tangkap dan kita lumpuhkan dengan kuncian.

Artinya, seorang pesilat tidak akan pernah mencari musuh. Bilamana perlu, jika ada yang akan memusuhi kita, maka “peluklah”….

Itulah sehebat-hebatnya beladiri.

Penulis adalah cicit Prabu Kian Santang yang saat ini adalah pengasuh perguruan silat Al-Hikmah Santang, ketua yayasan ponpes Syehk Nur Alif dan Dirut PT. Putu Prabu Kian Santang

Laporan: Jalal
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Filosofi Pencak Silat Oleh: Syeikh Nur Alif (KH. Dr. Raden. Nur Alif Fiqri, S.H.)

Trending Now

Kiri kanan

CLOSE ADS
-->
CLOSE ADS
-->