Iklan

Menguak Definisi Energi Cinta Yang Sebenarnya Bersama Ilham Ilyas Pendiri SHRI

Journal News
Minggu, 06 Desember 2020 | 19.29 WIB Last Updated 2020-12-06T12:29:07Z
Jika saya tanya: “Apa definisi cinta menurut Anda?”

Saya yakin Anda akan menjawabnya: “Cinta adalah pengorbanan”, “Cinta adalah apa yang dirasakan oleh hati,” dan sebagainya. Jawabannya tidak lepas dari embel-embel romantis karena cuma itu yang Anda tahu.

Tidak salah menjawab seperti itu. Tapi sadarkah Anda kalau meromantisasi cinta secara berlebihan bisa menyesatkan kehidupan romansa Anda? Kalau Anda punya pemikiran yang keliru, Anda sendiri yang akan sakit hati dan kecewa ketika menjalaninya.

Mengapa urusan cecintaan kini sarat dengan romantisme?

Itu ada hubungannya dengan perkembangan budaya, lebih tepatnya di bangsa Eropa pada masa Revolusi Industri. Saat itu, mesin indusri mengalami perkembangan pesat sehingga para pengusaha gencar memproduksi barang sebanyak-banyaknya. Hasilnya, buruh diupah rendah karena tenaganya digantikan oleh mesin. Meskipun begitu, kaum proletar tetap dipaksa bekerja untuk menghidupi mesin-mesin pabrik.

Waktu itu, masyarakat Eropa mengalami degradasi kehidupan karena kurangnya waktu untuk menikmati hidup. Daripada berkarya atau menikmati seni, mereka lebih memilih untuk bekerja. Akibatnya, kehidupan jadi monoton karena kegiatannya hanya diisi dengan mengurus keluarga dan bekerja. Selain itu, Revolusi Industri juga menciptakan masyarakat yang individualis dan tidak ada lagi rasa kekeluargaan.

Kondisi ini akhirnya melahirkan berbagai gerakan seni, sastra, dan intelektual yang menentang kakunya norma-norma di Eropa. Gerakan tersebut berusaha mengingatkan bahwa emosi adalah hal yang utama karena itu yang membedakan manusia dengan mesin. Mereka ingin masyarakat bisa kembali menikmati hidup dengan menggali emosi sedalam-dalamnya.

Sebuah revolusi mental terjadi. Era Romantisisme berisi karya seni yang melebih-lebihkan emosi manusia seperti rasa takut, takjub, dan cinta. Jika Anda membaca literatur Era Romantisisme seperti The Prelude atau Alastor or the Spirit of Solitude, Anda akan paham bahwa penulis saat itu cenderung berhiperbola tentang cinta. 

Lambat laun romantisisme menjalar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Banyak sastra beraliran romantik yang terbit antara tahun 1930-1950. Semenjak itu dimulailah Era Romantisisme di Indonesia yang masih berjalan sampai sekarang. Pengaruhnya begitu kuat mencekram sampai banyak melahirkan definisi cinta yang sarat hiperbola. Anda bisa lihat pengaruhnya di buku-buku tentang cinta atau musik bertema cinta. Akibatnya, cinta dianggap spesial daripada emosi manusia yang lain.

Coba Anda pikir darimana definisi “Cinta adalah pengorbanan” itu berasal? Anda pasti meyerapnya dari sinetron, akun cinta-cintaan, musik, atau dari orangtua. Semuanya adalah produk Era Romantisisme tadi.

Pencekokan definisi cinta yang berlebihan itu membuat Anda ikut berlebihan saat menyukai seseorang. Contoh: karena menganggap cinta adalah pengorbanan, Anda rela menggelontorkan jutaan rupiah demi gebetan. Anda pikir itu wajar karena selama ini media mengajarkan kalau ingin cinta diterima, maka Anda harus berkorban dengan menuruti semua kemauan gebetan.

Begitu pula kalau Anda menganggap cinta adalah apa yang dirasakan hati. Ketika dada berdegup kencang saat bertemu seseorang, Anda merasa itu tanda bahwa dia adalah jodoh Anda. Hasilnya, Anda jadi baperan dan capek sendiri karena banyak mengkhayal membangun keluarga bersama dia.

Jika definisi cinta itu justru menyulitkan Anda mencari pasangan, sebaiknya ganti dengan definisi baru yang lebih masuk akal. Zick Rubin, seorang pakar psikologi, menjelaskan bahwa cinta adalah emosi yang terbentuk dari tiga perasaan: perhatian, kasih sayang, dan keintiman.

Ketiga perasaan tersebut baru muncul setelah seseorang menghabiskan banyak waktu dengan pasangannya. Catat ini, DENGAN PASANGANNYA bukan DENGAN GEBETANNYA. Jadi cuma sekedar dekat dengan gebetan belum pantas disebut cinta.

Dari definisi tersebut saya sederhanakan menjadi:

Cinta adalah hasil investasi.

Jika dua orang saling menyukai, maka mereka akan sama-sama berusaha untuk semakin mendekat. Bila usaha tersebut rutin dilakukan terus menerus, perasaan suka itu akan berkembang menjadi cinta. Sebaliknya, bila hanya satu orang yang berusaha sementara satunya lagi tidak, maka perasaan itu tidak akan tumbuh menjadi cinta. 

Saya beri analogi, bayangkan skenario ini: Anda sangat menyukai iPhone X dan bermimpi membelinya nanti. Jadi Anda mulai menyisihkan gaji dan sering lembur larut malam agar dapat membeli gadget canggih tersebut. Setelah menabung cukup lama, akhirnya kotak hitam mahal itu sampai di tangan Anda.


Laporan: Jalal
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menguak Definisi Energi Cinta Yang Sebenarnya Bersama Ilham Ilyas Pendiri SHRI

Trending Now

Kiri kanan

CLOSE ADS
-->
CLOSE ADS
-->